Jumat, 26 Juli 2019 17:37:00

Menghadapi Era Masyarakat Ekonomi Asia

Oleh : Muhammad Aufa Muis, Robiah dan Lukmanul Hakim
BAGIKAN:
Istimewa

PESISIRONE.COM, BENGKALIS - Peluang masa depan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) membuat masyarakat untuk membuka mata. Masyarakat harus kreatif hadapi kesempatan ini. Kesempatan di bidang ekonomi makro lainnya juga di petakan dan dianalisis pada berita Kompas.com (9/1) yang berjudul “Peluang Besar Bagi Industri Komponen Dalam Negeri” juga patut dipertimbangkan. Sebab, pemerintah akan mendorong industri dalam negeri dalam hal penyediaan komponen listrik terkait proyek pembangunan pembangkit listrik 35.000 megawatt. Banyak komponen yang bisa dipasok dari dalam negeri. Kita harus cepat menangkap peluang ini,(07/2019).

Selain itu, lembaga keuangan bank milik negara dan swasta juga merupakan bagian dari ruang lingkup ekonomi makro. Namun lembaga keuangan ini diawasi sepenuhnya oleh Otoritas Jasa Keuangan. Sebelum adanya OJK pengawasan lembaga keuangan hanya dilakukan oleh Bank Indonesia. Sektor swasta yang merupakan aspek ekonomi mikro telah banyak berkembang namun ada juga yang nakal. Hal ini perlu adanya pengawasan yang sitematis oleh suatu lembaga resmi yang dibentuk pemerintah namun bersifat independen. Karena bukan tidak mungkin juga terjadi kecurangan dari pihak pengusaha yang dapat merugikan pekerja.

Menghadapi era Masyarakat Ekonomi Asia yang hampir tiba. Mari kita jadikan kesempatan merubah pandangan negatif terhadap Indonesia. Sebab, selama ini pandangan sebahagian masyarakat asia bahwa Indonesia hanyalah pemasok tenaga kerja wanita. Melalui kesepakatan masyarakat ekonomi asean ini, siapapun yang memiliki kompetensi di bidang formal maupun non formal dibukakan pintu peluang berkarir selebar-lebarnya. Tentunya banyak hal yang harus dipersiapkan, diantaranya adalah kemampuan berbahasa Inggris dan Mandarin.

Negara kita kaya dengan bahan mentah yang dapat digolongkan menurut mutunya sesuai dengan standar perdagangan internasional. Oleh karena itu, masyarakat berpeluang mengembangkan berbagai barang non migas yang merupakan komoditas ekspor dari Indonesia seperti bidang pertanian yang menghasilkan karet, kopi, dan kelapa sawit. 

Namun ironinya kemiskinan sebahagian masyarakat terlihat seolah dibuat-buat. Rendahnya perekonomian yang dialami disebabkan beberapa masalah mental, Pertama, faktor kurangnya motivasi, padahal berbagai sumber pinjaman modal usaha bisa dengan mudah di dapatkan masyarakat, bahkan mereka tidak diminta menyerahkan jaminan untuk mendapatkan modal tersebut. Apalagi proses pengembalian mudah dan tidak ada bunga dari dana pinjaman tersebut. Satu diantara lembaga keuangan zakat yang menyediakan bantuan pinjaman modal usaha tersebut adalah Badan Amil Zakat Nasional. Bagi masyarakat yang ingin mendapatkan pinjaman modal hanya perlu manyiapkan persyaratan yaitu surat permohonan, Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) asli dari kelurahan, fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP), fotokopi Kartu Keluarga (KK), rincian modal usaha, serta melampirkan foto bagi usaha yang sudah berjalan.

Kedua, mental untung rugi. Faktor ini erat kaitannya dengan ketakutan, belum memulai suatu usaha difikiran sudah muncul ketakutan akan mengalami kebangkrutan. Padahal jika mampu membaca peluang atas apa yang menjadi kebutuhan masyarakat akan menjadi peluang mendapatkan keuntungan. Namun, penting untuk kita terhindar dari prinsip meraih keuntungan yang sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecil nya.

Ketiga masih kurangnya kesadaran berwira usaha. Masyarakat masih banyak yang bermental jadi karyawan. Dengan kata lain masyarakat belum terbuka fikirannya untuk berwira usaha dengan memanfaatkan peluang yang ada. Sebahagian besar lulusan pendidikan tinggi berpendapat bahwa pekerjaan paling baik adalah dengan menjadi pegawai negeri. Namun sebaliknya tidak sedikit yang akhirnya insaf untuk meningkatkan perekonomiannya dengan melepaskan statusnya sebagai pegawai untuk berwira usaha.

Keempat, kurangnya kesadaran akan pentingnya pendidikan. Fungsi pendidikan disini adalah sebagai cara untuk mencerdaskan anak-anak. Karena generasi yang baik bisa menjamin kemajuan bangsa, tapi semuanya tidak akan tercapai jika fondasinya (yang berawal dari keluarga) tidak ada. 

Kelima, kebijakan pemerintah yang tidak memihak pada masyarakat. Masih segar di ingatan kita gejolak penolakan terhadap kenaikan harga BBM. Berbagai media informasi seperti stasiun televisi, internet bahkan radio menyiarkan aksi demonstrasi yang dilakukan para aktivis mahasiswa dan berbagai elemen masyarakat yang turun kejalan. Kebijakan pemerintah itu berkontribusi meningkatkan angka kemiskinan karena berdampak kepada naiknya ongkos transportasi umum, harga sembako, bahkan menambah jumlah pengangguran.

Indonesia sesungguhnya memiliki kekayaan alam yang masih menjadi harta karun yang masih harus terus digali. Namun kekurangan sumber daya manusia dan mental yang rusak akibat keserakahan. Para pemimpin di masa lalu dengan mudahnya menggadaikan bahkan menjual kekayaan alam dan aset negara layaknya barang obralan.

  komentar Pembaca
Copyright © 2012 - 2020 Online Terkini & Bermartabat. All Rights Reserved.