• Home
  • Pemerintah Daerah
  • Jajaki Usulan Bupati Irwan Terkait Pengelolaan Sagu, Perum Bulog Riau-Kepri Sambangi Meranti
Selasa, 21 Juli 2020 19:16:00

Jajaki Usulan Bupati Irwan Terkait Pengelolaan Sagu, Perum Bulog Riau-Kepri Sambangi Meranti

BAGIKAN:
foto : Istimewa
Bupati Kepulauan Meranti, Drs Irwan MSi saat melakukan pertemuan bersama pihak Perum Bulog Riau-Kepri.

MERANTI, PESISIRONE.COM - Bupati Kepulauan Meranti Drs Irwan MSi melakukan pertemuan bersama pihak Perum Bulog RI, dalam hal ini Direktur Operasional II Perum Bulog RI, Tri Wahyudi Saleh. Pertemuan itu menjajaki usulan Bupati agar sagu masuk komoditi pangan pokok Nasional dan dapat ditampung oleh Perum Bulog RI.

Pihak Bulog Wilayah Riau-Kepri bersama Bupati Meranti dan OPD sekaligus melakukan survei lapangan untuk menghimpun semua informasi tentang potensi sagu yang ada di Meranti. Pertemuan itu rencananya akan digelar pada Rabu (22/72020).

"Iya benar, Perum BULOG Wilayah Riau-Kepri yang membawahi wilayah kerja Kabupaten Kepulauan Meranti bermaksud untuk melakukan penjajakan pengelolaan sagu di wilayah Kabupaten Kepulauan Meranti. Rencana pertemuan itu akan digelar esok (Rabu--red)," kata Kabag Humas dan Protokol Setda Kepulauan Meranti, Rudi MH, Selasa (21/7/2020).

Menurut Rudi, informasi dari pihak Bulog pertemuan itu akan menjadi tahap awal penjajakan pengelolaan sagu yang kemudian akan menjadi pertimbangan manajemen Perum Bulog Pusat dalam pengelolaan sagu.

Namun sebelum pertemuan dengan Perum Bulog itu dilakukan, dari pantauan dilapangan Bupati lebih dulu menggelar pertemuan dengan sejumlah pengusaha sagu yang ada di Kepulauan Meranti. Pertemuan itu untuk menghimpun semua masukan dan aspirasi dari para pengusaha untuk disampaikan kepada pihak Bulog saat pertemuan nanti.

Salah satu yang dibicarakan yaitu masalah sertifikasi sagu untuk memudahkan pemasaran seperti sertifikat halal dan sertifikat kualitas sagu yang diproduksi di Meranti. Hal itu dianggap penting karena akan menjadi pertimbangan dari Perum Bulog untuk menjalin kerjasama dibidang pemasaran.

Selain itu dalam pertemuan antara Bupati dengan para pengusaha sagu tersebut juga membicarakan wacana pembentukan Asosiasi Pengusaha Sagu Kepulauan Meranti (APSKM) yang digagas oleh Bupati. Pembentukan asosiasi ini bertujuan untuk mempermudah pengurusan sertifikasi produk sagu, termasuk juga untuk menyampaikan aspirasi pembebasan kilang-kilang sagu masyarakat yang diketahui masuk dalam kawasan hutan lindung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI.

Pertemuan itu turut dihadiri oleh Kepala Bappeda Meranti Azza Fahroni MSi, Kabag Ekonomi Sekda Meranti Abu Hanifah, Kabag Humas dan Protokol Meranti Rudi MH, Kabag Kesra Hery Saputra SH, Pengusaha Sagu Candra dan rombongan, serta pihak Disdagperinkop Meranti.

Kepada para pengusaha, Bupati Irwan menegaskan sangat berkomitmen untuk membantu masyarakat pengolah dan pengusaha sagu di Meranti. Karena stabilitas ekonomi Meranti sangat bergantung pada pemasaran produki sagu yang menjadi potensi perkebunan andalan daerah, dimana sebagian besar masyarakatnya menggantungkan hidup pada sagu.

Dari data yang diperoleh Bupati dari Bank Indonesia, perputaran uang yang dihasilkan oleh sektor industri sagu lebih besar dari APBD Meranti. Jika pemasaran sagu terganggu, maka bisa memicu krisis ekonomi di Meranti.

"Dari informasi Bank Indonesia perputaran uang yang dihasilkan dari produksi dan pemasaran sagu sebesar Rp 2 triliun per tahun dan ini lebih besar dari APBD Meranti. Jika Sagu mati, maka ekonomi Selatpanjang akan jatuh," ucap Bupati.

Seperti diketahui, sebelumnya Bupati dalam perjuangannya untuk memasukan sagu dalam komoditi pangan Nasional dan mengusulkan Perum Bolog RI dapat menampung produk sagu telah menggelar pertemuan dengan Direktur Operasional II Perum Bulog RI, Tri Wahyudi, di Jakarta beberapa waktu lalu.

Ketika itu Bupati Meranti yang juga Ketua Forum Komunikasi Kabupaten Penghasil Sagu Indonesia (Fokus-Kapassindo) meminta kepada pihak Perum Bulog untuk menjadikan sagu sebagai salah satu komoditi pangan Nasional. Sehingga hasil produksi sagu Nasional khususnya Meranti dapat dibeli, dipasarkan, dan diekspor hingga ke mancanegara oleh Bulog RI layaknya beras.

Menurutnya Pemerintah Pusat melalui Perum Bulog RI harus turun tangan memasukan sagu dalam managemen Logistik Nasional. Caranya dengan menampung dan membeli hasil produksi sagu masyarakat layaknya Bulog membeli beras, sehingga memberikan jaminan kepada masyarakat pengolah sagu disektor pemasaran.

Lebih jauh dijelaskan Bupati, salah satu daerah penghasil sagu terbesar di Indonesia adalah Kabupaten Kepulauan Meranti dengan hasil produksi tepung sagu mencapai 241.277 ton per tahun. Didaerah ini sebanyak 20 persen masyarakat menggantungkan hidupnya pada perkebunan sagu dengan luasan lahan 39.664 hektr dan terdapat 95 unit kilang/pabrik.

Selain dari kebun sagu masyarakat, terdapat juga kebun sagu miliki PT Nasional Sagu Prima (NSP) seluas 21.000 hektar yang diberi izin dan telah diolah seluas 14.000 hektar. Hasil produksi sagu PT NSP diekspor ke berbagai negara diantaranya Jepang, Korea Selatan, dan Singapura.

Saat ini harga tepung sagu kering berkisar Rp5.500 - Rp6.000 per kg, dan sagu basah antara Rp1.800 - Rp2.000 per kg. Sebagian hasil produksi sagu Meranti dijual ke Cirebon, Pekanbaru, Medan, dan Malaysia.

Namun dengan terjadinya wabah pandemi Corona Virus Disease (COVlD-19) sangat berdampak pada pemasaran hasil produksi tepung sagu dan juga berpengaruh pada ekonomi petani sagu di Meranti.

"Akibat adanya penutupan wilayah atau daerah yang menjadi tempat penjualan hasil tepung sagu menyebabkan terganggunya pemasaran dan juga berpengaruh pada ekonomi masyarakat khususnya petani sagu," jelas Irwan kepada pihak Bulog.

Untuk itu, agar petani sagu tetap bersemangat mengolah sagu sekaligus memberikan kepastian pemasaran sagu, Bupati berharap kepada Perum Bulog RI dapat menampung dan membeli hasil produksi tepung sagu di Kepulauan Meranti. Hal ini menurut Bupati Irwan juga sesuai dengan penugasan Perum Bulog dalam rangka menjaga ketahanan dan menjaga stabilitas pangan Nasional.

Menyikapi permintaan Bupati Meranti tersebut, disambut baik oleh Direktur Operasional II Perum Bulog RI, Tri Wahyudi Saleh. Namun untuk menjadikan sagu sebagai komoditi oangan Nasional yang dapat dibeli oleh Perum Bulog tidak bisa diputuskan sepihak oleh Bulog melainkan harus berkoordinasi dulu dengan Kementerian terkait seperti Menko Perekonomian dan lainnya yang nantinya memberikan penugasan kepada Perum Bulog.

Selain itu, Tri Wahyudi juga meminta Bupati untuk terlebih dahulu membahas masalah tersebut ke Menko Perekonomian dan Kementerian terkait lainnya. Untuk lebih menguatkan usulan pihak Perum Bolog juga meminta kajian dari akademisi sehingga dapat ditindaklanjuti dengan survei dilapangan sebagai pertimbangan dikeluarkannya kebijakan.

Kemungkinan kunjungan Perum Bulog Wilayah Riau-Kepri ini merupakan tindaklanjut dari pertemuan Bupati dengan Perum Bulog RI di Jakarta yakni, dengan melakukan survei dilapangan sebagai salah satu bahan pertimbangan dikeluarkannya kebijakan sagu masuk dalam komoditi pangan Nasional yang dapat dibeli atau ditampung oleh Bulog untuk kembali dipasarkan.(adv)

  komentar Pembaca
Copyright © 2012 - 2020 Online Terkini & Bermartabat. All Rights Reserved.