• Home
  • Nasional
  • Gempa Terus Terjadi di Indonesia? Seharusnya Bisa Diantisipasi
Selasa, 07 Agustus 2018 15:22:00

Gempa Terus Terjadi di Indonesia? Seharusnya Bisa Diantisipasi

BAGIKAN:
Ilustrasi. Posisi Indonesia dikenal berada di Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire), yaitu daerah “tapal kuda” sepanjang 40.000 km yang sering mengalami gempa bumi dan letusan gunung berapi yang mengelilingi cekungan Samudra Pasifik. (Sumber: Japan in

PESISIRONE.COM – Gempa yang mengguncang Lombok membuat masyarakat kembali bertanya-tanya seberapa besar potensi bencana alam ini terjadi di Indonesia? Apalagi jika melihat ke belakang, terutama mengaca pada kejadian gempa yang menyebabkan tsunami di Aceh pada tahun 2004 ataupun di Padang pada tahun 2009.

Nuraki Aziz dalam tulisannya untuk BBC Indonesia, menyebutkan para ahli mengatakan, apabila dilihat secara geologi, baik dari lempengan dan patahan yang ada, gempa memang sudah pasti akan terjadi di Indonesia.

Wilayah Indonesia sangat berpotensi terjadi gempa bumi karena posisinya yang berada di pertemuan tiga lempeng utama dunia, yaitu Eurasia, Indoaustralia dan Pasifik. “Dari tumbukan ini terimplikasi adanya sekitar enam tumbukan lempeng aktif yang berpotensi memicu terjadinya gempa kuat,” kata Dr Daryono, kepala bidang informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

“Wilayah Indonesia juga sangat kaya dengan sebaran patahan aktif atau sesar aktif. Ada lebih dari 200 yang sudah terpetakan dengan baik dan masih banyak yang belum terpetakan, sehingga tidak heran jika wilayah Indonesia itu dalam sehari itu lebih dari 10 gempa yang terjadi,” Daryono menambahkan.

Sejumlah patahan aktif tersebut adalah patahan besar Sumatera yang membelah Aceh sampai Lampung, sesar aktif di Jawa, Lembang, Jogjakarta, di utara Bali, Lombok, NTB, NTT, Sumbawa, di Sulawesi, Sorong, Memberamo, di samping di Kalimantan.

Posisi Indonesia dikenal berada di Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire), yaitu daerah “tapal kuda” sepanjang 40.000 km yang sering mengalami gempa bumi dan letusan gunung berapi yang mengelilingi cekungan Samudra Pasifik. Sekitar 90 persen dari gempa bumi yang terjadi dan 81 persen dari gempa bumi terbesar terjadi di sepanjang Cincin Api ini.

“Mungkin kalau kita melihat ke dunia, itu kelihatan bahwa Indonesia itu sangat merah dibandingkan dengan yang lain. Jepang, misalnya merah juga, Filipina saya pikir merah juga. California itu merah juga karena di situ ada zona San Andreas Fault yang besar dan bergerak sangat cepat,” kata Danny Hilman Natawidjaja, peneliti utama bagian geologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Perbandingan Indonesia dengan bagian lain dunia dilakukan dengan menggunakan global seismic hazard atau bahaya seismik global, Danny menjelaskan.

“Zonasi seismic hazard itu yang direpresentasikan adalah potensi guncangan gempanya, yang direpresentasikan dengan nilai percepatan gravitasi, G. Makin tinggi yah makin banyak guncangannya,” katanya.

“Nilai G lebih dari 5 menjadi merah. Nilai 3 sampai dengan 5, kuning. Yang ada di bawahnya hijau biru dan sebagainya. Itu kelihatan bahwa Indonesia itu sangat merah dibandingkan dengan yang lain,” Danny menambahkan.

Korban Manusia dan Infrastuktur

Gempa di Lombok yang terjadi hari Minggu (5/8/2018) telah menyebabkan banyak korban meninggal di samping ribuan orang harus mengungsi. Sementara gempa Aceh 2004 yang berkekuatan 9,3 pada skala richter, menyebabkan 180.000 orang meninggal dengan kerugian Rp45 triliun.

Jadi apakah kerugian, termasuk kerugian material seperti rumah, jalan, jembatan dan sebagainya, akan terus terjadi mengingat tingginya potensi terjadinya gempa di Indonesia?

“Masyarakat kita akan terus menjadi korban setiap terjadinya gempa karena kita juga tidak melihat langkah-langkah konkret yang benar-benar, semacam juklak bagaimana membangun bangunan tahan gempa itu diedukasikan secara masif sehingga masyarakat kita benar-benar memahami dan kemudian mindset itu berubah,” kata Dr Daryono.

Sementara itu, kepadatan penduduk dan bangunan di Jawa dan Sumatera dibandingkan di bagian timur, menyebabkan lebih besar kemungkinan risiko korban dan kerusakan.

“Kalau kita lihat dari potensi hazard-nya, bahayanya, Indonesia timur itu dua kali lipat potensinya dibandingkan dengan wilayah barat. Tetapi, yang namanya risiko itu kan juga mempertimbangkan keberadaan populasi dan infrasturktur. Untuk saat ini infrastruktur dan populasi kebanyakan di Jawa dan Sumatera, daerah Papua dan Maluku kan masih sedikit,” kata ahli geologi LIPI, Danny Hilman.

Seharusnya Bisa Diantisipasi

Mengingat besarnya potensi dan risiko gempa di Indonesia dan telah panjang catatan sejarahnya, bukankah langkah pencegahan seharusnya sudah diambil?

Pemerintah mengatakan berbagai cara untuk mengantisipasi bencana alam ini telah dilakukan, termasuk dengan menggunakan teknologi tinggi.

“Sistem monitoring gempa bumi, sistem processing dan diseminasi penyebaran itu sudah sangat bagus, menggunakan teknologi yang. Dalam waktu kurang dari tiga menit itu sudah bisa mendapatkan informasi parameter gempa. Waktu gempa, kekuatan, kedalaman dan lokasinya. Kita juga bisa mengeluarkan peringatan dini tsunami dengan cepat,” kata Daryono dari BMKG.

Pada tahun 2017, Indonesia telah merevisi peta seismic hazard, seluruh wilayah sudah dizonasi dan dikuantifikasi terkait seberapa besar potensi guncangan seismiknya.

“Berdasarkan peta itu seorang ahli sipil bisa mendesain struktur tahan gempa yang cocok untuk seluruh wilayah di Indonesia. Kalau semua orang, semua bangunan mengikuti, mematuhi peraturan yang ada, saya pikir nggak ada masalah kapan ada gempa terjadi karena yang paling berbahaya waktu gempa itu bukan gempanya tetapi bangunan yang roboh,” kata Danny Hilman Natawidjaja.

Jadi mengapa masyarakat tetap menjadi korban setiap terjadi gempa, dengan adanya berbagai hal seperti teknologi tinggi dan kesiapan zonasi?

“Masih jauh urusan awareness, urusan pemahaman. Mereka belum siap. Kenapa belum siap? Mereka tidak tahu informasinya. Sangat sedikit masyarakat dari kami yang tahu. Tahu tentang itu wilayah gempa atau tahu di situ ada ancaman gempa, itu sangat sedikit.”

“Mereka juga tidak tahu bagaimana cara untuk menanggulangi kalau itu terjadi,” kata Hening Parlan dari Lembaga Lingkungan Hidup dan Bencana, Aisyiyah yang telah mengamati topik keberdayaan masyarakat dalam mengatasi bencana alam, seperti gempa selama 20 tahun. (bbc.com)

  komentar Pembaca
Copyright © 2012 - 2018 Online Terkini & Bermartabat. All Rights Reserved.